News  

Jalan Rusak Penghubung Weekura–Weekombak warga keluhkan, Lukas Lede Ngongo, lihat keadaan jalan kami ini rusak para

Warga melintasi ruas jalan rusak penghubung Desa Weekura dan Desa Weekombak, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, yang dikeluhkan masyarakat karena menghambat akses kesehatan, ekonomi, dan pelayanan gereja. (Foto/lapanenam.com/Kobus Tena)

Wewewa Barat, Lapanenam – Warga di wilayah Desa Weekura dan Desa Weekombak, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, kembali mengeluhkan kondisi jalan penghubung antardesa yang rusak berat dan belum mendapat penanganan pemerintah daerah.

Jalan tersebut disebut menjadi akses utama masyarakat menuju pusat layanan kesehatan, gereja, hingga lahan pertanian.

Tokoh masyarakat desa weekura, Lukas Lede Ngongo, mengatakan usulan perbaikan jalan itu telah berulang kali disampaikan melalui forum musyawarah pembangunan desa hingga tingkat kabupaten. Namun hingga kini kondisi jalan dinilai tetap memprihatinkan.

“Dari tahun ke tahun kami selalu usulkan lewat musrenbang desa, musrenbang kecamatan sampai kabupaten, tetapi sampai hari ini jalannya masih seperti ini,” kata Lukas, saat di temui lapanenam.com di lokasi, (23/5/2026.

Menurut dia, ruas jalan tersebut memiliki peran penting bagi aktivitas ekonomi masyarakat karena berada di kawasan dengan potensi pertanian yang cukup besar. Hasil pertanian warga, kata dia, sebagian besar diangkut melalui jalur tersebut.

Selain menjadi akses ekonomi, jalan itu juga menghubungkan sejumlah fasilitas pelayanan publik dan pusat kegiatan keagamaan. Di wilayah Weekombak terdapat Paroki Weekombak dengan dua stasi, yakni Stasi Salib Suci dan Stasi Santa Marta yang terletak di desa weekura.

Warga juga mengaku kesulitan mengakses layanan kesehatan akibat kondisi jalan yang rusak. Lukas menuturkan masyarakat yang hendak menuju Puskesmas Weekombak terpaksa memutar melalui Waimangura dan Kalembu Weri karena jalur utama sulit dilalui.

“Pernah ada ibu melahirkan di jalan pada 2024 karena perjalanan terlalu jauh harus memutar,” ujar Lukas.

Ia menjelaskan, apabila jalan tersebut dalam kondisi baik, warga hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit menuju Puskesmas Weekombak. Namun akibat kerusakan jalan, perjalanan menjadi jauh lebih panjang dengan jarak tempuh mencapai sekitar 20 kilometer.

Lukas juga menyinggung keberadaan sumber mata air di kawasan sumber Mata Air yang selama ini dimanfaatkan warga dari Desa Weekombak, Menne Ate, Sangu Ate, hingga Weekura.

Menurut dia, akses jalan yang buruk membuat aktivitas masyarakat terganggu, termasuk perjalanan para pastor dan biarawati menuju wilayah pelayanan gereja. Banyak di antara mereka memilih memutar melalui jalur lain karena khawatir terjatuh akibat kondisi jalan berbatu dan rusak.

“Jalan ini sebenarnya jalan penghubung antardesa dan antarkecamatan. Masyarakat setiap hari melewati jalan ini,” jalasnya.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya segera memberi perhatian terhadap kerusakan jalan tersebut karena dinilai menyangkut kebutuhan dasar masyarakat, mulai dari kesehatan, pendidikan, pelayanan gereja, hingga aktivitas ekonomi.***

Penulis: Kobus Tena Editor: Kobus Tena