News  

Bergelar Magister, Rusiandi Pilih Jadi Terapis, Berawal dari ‘Tester’ ke Tetangga Kini Bina Puluhan Anak Muda

Dulu diragukan, kini justru jadi jalan hidup: dari pijat rumahan hingga bina puluhan anak muda

MATARAM, LAPANENAM.com Tak semua lulusan magister memilih duduk di balik meja kantor.

Hal itu dibuktikan Rusiandi, M.M., pria asal Lombok yang justru menekuni profesi sebagai terapis pijat sejak lebih dari 20 tahun lalu.

Menariknya, perjalanan Rusiandi tidak dimulai dari klinik atau tempat mewah, melainkan dari hal sederhana: mencoba memijat tetangga.

“Awalnya kami kasih tester ke tetangga dan teman dekat. Setelah mereka merasa cocok, baru mulai berkembang,” ujarnya.

Pria kelahiran Benyer, 1 Januari 1985 itu kini dikenal sebagai terapis di Kota Mataram. Ia tinggal di Jalan Dr Soetomo, Gang Gili Anyar IV, Karang Baru Selatan.

Tak hanya membuka layanan terapi, Rusiandi juga aktif mengajar dan melakukan kegiatan sosial di masyarakat.

Dalam praktiknya, ia menyediakan layanan pijat relaksasi, refleksi, hingga pijat kebugaran. Keluhan pelanggan pun beragam, mulai dari pegal, nyeri pinggang, sakit kepala hingga frozen shoulder.

“Sekarang aktivitas masyarakat tinggi, jadi banyak yang butuh relaksasi,” katanya.

Tak berhenti sebagai terapis, Rusiandi juga mendirikan Komunitas Terapis Sehat Sejahtera (KTSS) Lombok yang kini memiliki sekitar 78 anggota.

Ia bahkan membentuk Yayasan Terapis Sehat Sejahtera untuk melatih anak-anak muda yang belum memiliki pekerjaan.

“Anak-anak kami latih supaya punya skill. Harapannya mereka bisa mandiri,” ujarnya.

Hasilnya, sejumlah peserta pelatihan kini telah bekerja di hotel-hotel di kawasan pariwisata seperti Mandalika.

Di bidang pendidikan, Rusiandi juga membuka kursus Bahasa Inggris gratis bagi anak-anak kurang mampu dengan jumlah peserta mencapai 20 hingga 30 orang.

Menariknya, di balik semua aktivitas tersebut, Rusiandi merupakan lulusan Magister Manajemen Sumber Daya Manusia dari Universitas Mataram melalui beasiswa Pemprov NTB.

Meski bergelar tinggi, ia mengaku tak pernah gengsi menjalani profesi sebagai terapis.

“Yang penting bukan gelarnya, tapi seberapa besar manfaat kita untuk orang lain,” tegasnya. (le1)