SEMBALUN -LAPANENAM.COM – Sektor pelayanan BTN B di Jemaat GPIB Immanuel Bung Karno Mataram melaksanakan kegiatan ibadah padang yang dirangkai dengan rekreasi wisata alam.
Ibadah Padang Sektor BTN B memilih lokasi Sembalun, Kabupaten Lombok Utara. Menempuh perjalanan sekitar 150 kilometer dari Kota Mataram, rombongan peserta ibadah padang menumpangi tiga mobil Hi Ace dan sejumlah mobil pribadi.
Tiga pendeta dan satu vicaris dari Jemaat GPIB Immanuel Bung Karno Mataram, masing-masing Pdt. Miss Pelletimu Sono-Bogar, Pdt. David Pelletimu, Pdt. Anice M.Jonar-Parak dan Vicaris Brenearum Ririsawan ikut serta dalam ibadah padang tersebut. Bahkan vicaris Brene adalah Sekretaris panitia untuk kegiatan ini.
Tak hanya itu, Ketua Majelis Jemaat GPIB WR Supratman yang tak lain adalah gereja induk GPIB Immanuel Bung Karno Mataram, Pdt. Radius A Jonar juga bergabung walaupun bersangkutan datang belakangan karena masih memimpin ibadah di jemaatnya. Ibadah Padang dilaksanakan dua hari yaitu Rabu dan Kamis, 27 dan 28 Mei 2026.
Perjalanan rombongan peserta ibadah padang Sektor BTN B pagi itu dimulai dari titik start di halaman gereja GPIB Immanuel Bung Karno Mataram di Jalan Bung Karno Mataram. Dari lokasi ini, peserta bergerak menuju Lapangan Golf Sire di Tanjung, Lombok Utara.

Menempuh jarak 1,5 jam perjalanan dengan mobil, peserta tiba di lapangan golf dan langsung merasakan nikmatnya mengelilingi lapangan golf yang sangat luas menumpang mobil buggy. Setelah puas berkeliling melihat lapangan golf, peserta lalu berkumpul dan photo bersama, merekam video untuk kenang-kenangan.
“Kalau ada dua atau tiga orang sedang main golf, kita tidak diberi izin masuk. Itu sudah aturannya. Sekarang mumpung lagi libur dan kesempatan bisa melihat lapangan golf dari semua sisi,” kata Adi Utomo salah satu anggota jemaat peserta ibadah Padang yang kebetulan juga pelanggan aktif bermain golf di Sire.
Peserta yang menumpang di buggy yang dikemudikan Adi Utomo juga sempat teriak kegirangan ketika buggy yang ditumpangi meliuk-liuk di permukaan tanah bergelombang dan berumput hijau khas lapangan golf.
“Pak Adi sengaja melewatkan buggy di tanah bergelombang dan miring makanya kita teriak teriak karena sensasi spot yang menegangkan,” kata Wika Tungga, salah satu peserta yang paling heboh di lapangan golf.
Dia juga sengaja memakai kostum ala-ala keddy golf, celana panjang ketat, kaos, topi golf dan rambut diikat memanjang. “Tapi jangan salah ini bukan keddy golf,” canda yang lain sambil menunjuk Wika dan semua tertawa lepas.
Setelah merasa cukup berkeliling dan photo photo di lapangan golf, rombongan lalu menuju ke restoran lapangan golf Sire untuk menikmati minuman segar kelapa muda.
Setelah itu melanjutkan perjalanan menuju Hotel Pesona Rinjani yang terletak di Sembalun, Lombok Utara. Perjalanan lanjutan ini menempuh jarak sekitar 120 kilometer. Tetapi yang paling menegangkan ketika hendak masuk wilayah Sembalun menuju hotel.
Ternyata tempat menginap paling lengkap dan luas ini berada di lereng Gunung Rinjani. Tentunya untuk menuju ke sana, tanjakan dan tikungan tajam adalah santapan yang menguji andrenalin. Rombongan dalam mobil Hi Ace pun teriak sambil mengucap kalimat doa, antara takut atau kegirangan.
“Tuhan Yesus baik,” ucap ibu ibu saat menapaki tikungan tajam dan mendaki ekstrim.
Tiba di lokasi yang berada di lereng gunung Rinjani, rombongan mulai merasakan hawa dingin. Tetapi Gunung Rinjani yang sudah di depan mata belum terlihat karena tertutup kabut sore.
Pemandangan ini berlanjut hingga malam tiba. Setelah istirahat sejenak di kamar hotel masing-masing, tepat pukul 16.30 Wita sore itu juga ibadah keluarga gabungan Sektor BTN B dilaksanakan di aula hotel setempat dipimpin Pendeta Miss Pelletimu Sono-Bogar yang juga Ketua Majelis Jemaat GPIB Immanuel Bung Karno Mataram.
Pendeta Miss dibantu Diaken Theresia Bolling sebagai liturgos. Lima puluh warga Sektor BTN B yang ikut dalam kegiatan ibadah padang ini menjadi peserta aktif ibadah keluarga sore itu.
Selesai ibadah, hari mulai gelap. Temaran lampu lampu hias di lereng Gunung Rinjani menambah indahnya pemandangan. Udara di luar sana pun semakin dingin.
Selanjutnya malam itu di bawah sorot lampu yang sengaja dipersiapkan panitia, permainan atau games pun dimulai. Games yang dipilih terdiri dari games yang menghibur, tidak membebani fisik, dan semua dipandu dalam suasana fun dan kekeluargaan.
Untuk memudahkan penilaian hasil games, panitia membagi peserta dalam kelompok. Terdapat 11 kelompok yang masing-masing diberi nama kelompok dari nama buah.
Ada kelompok markisa, kelompok manggis, kelompok pepaya, dan sebagainya.
Tiga games yaitu menebak anggota kelompok, menebak kata dan menirukan suara hewan mengundang keseruan dan gelak tawa peserta. Ketika masuk pada games menirukan suara hewan, kelompok Manggis yang terdiri dari Pdt.Miss Pelletimu, Pdt.David Pelletimu dan anak-anaknya menarik kertas bertuliskan kata kera. Artinya kelompok ini harus menirukan suara kera.
Ternyata pendeta Miss dan Pendeta David Pelletimu serta anak anak mereka yang tergabung dalam kelompok manggis cukup kesulitan menirukan suara kera. Ketika Pdt.David Pelletimu mencoba menirukan suara kera, gelak tawa pun pecah di tengah kerumuman anggota kelompok yang lain sambil memberi semangat ayo… ayo… Ayo…!
Kelompok lain ada yang menirukan suara kucing, suara harimau, suara ayam dan sebagainya sesuai nama hewan yang mereka tarik saat diundi.
Malam hari itu, suasana terasa hangat dan penuh rasa persaudaraan.
Setelah itu, peserta bergeser ke lapangan yang lebih gelap. Di sana telah dipersiapkan untuk acara api unggun. Suasana semakin hangat dan seru karena di sini pemenang lomba diumumkan, dilanjutkan talent show oleh masing-masing kelompok.
Lilin elektrik yang dinyalakan di setiap tangan peserta menambah indah pemandangan permainan di pasaran api unggun malam itu. Api unggun menyala berkobar-kobar di tengah gelapnya suasana malam yang dingin. Acara hari itu ditutup dengan ramah tamah dan doa malam.
Selebihnya acara bebas di restoran hotel setempat yang diisi dengan bernyanyi dan karaoke bersama. Pukul 24.00 Wita, semua masuk kamar masing-masing untuk istirahat.
Besok pagi pada hari Kamis, 28 Mei 2026, pukul 06.00 Wita peserta keluar dari kamar dan sudah siap doa pagi.
Tetapi di luar sana, pemandangan gunung Rinjani sudah tampak terlihat jelas di depan mata. Puncak Rinjani terlihat seperti emas diterpa sinar pagi walaupun di lerengnya masih gelap. Indah nian karya ciptaan Tuhan. Dan semua tidak mau kehilangan moment tersebut dan mulai memotret untuk dokumen pribadi.
Setelah doa pagi, acara dilanjutkan dengan senam bersama.
Lalu melanjutkan photo photo dan makan pagi. Tepat jam 10.00 WITA peserta cek out dari kamar hotel dan kembali ke Mataram melalui jalur Lombok Timur.
Perjalanan ini mengitari pulau Lombok sambil menikmati keindahan pulau Lombok dengan segala destinasi wisata yang tersedia. Koordinator Sektor BTN B, Dominikus Umbu Pati mengucapkan terimakasih kepada semua tim kerja yang terlibat dan kepada semua yang telah berpartisipasi menyukseskan kegiatan ibadah padang sambil rekreasi tersebut.(dm)***
